Pengelolaan dan Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga

Dok. WKRI ParungPada Sabtu (03/09) yang lalu, tiga peserta perwakilan WKRI Cab St. Joannes Baptista Parung ditemani  Ketua WKRI, Titik Margono mendapat undangan untuk menghadiri acara pelatihan Pengelolaan & Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga di Katedral Bogor bersama kurang lebih 100 anggota  WKRI cabang lainnya se-Keuskupan Bogor.

Kami kira, karena acara serupa sudah terselenggara di gereja St. Joannes Baptista Parung, tentunya materi yang disampaikan akan sama. Namun diluar dugaan, materinya cukup menarik. Romo Ridwan, wakil dari PSE mengatakan bahwa tujuan dari pelatihan tersebut adalah melestarikan karya ciptaan Allah dengan menjaga serta memelihara lingkungan. “Kita juga harus mewujudkan dunia baru agar tidak hancur,” kata Romo Ridwan.

[Baca juga: Mengelola Sampah Jadi Berkah]

Acara diawali doa oleh Romo Tukio sebagai penasihat WKRI sekaligus memberikan sambutan singkat bahwa dalam pelatihan ekologi ini ada 3 poin yang harus dilakukan, yaitu Reduce, Recycle, dan Repot. Kenapa harus repot, karena kita harus memilah-milah sampah.

Suster Marisa Nur Trisna CB, dari rumah retret Puspanita Ciawi memberikan materi dalam acara tersebut. Beliau memberikan gambaran bagaimana alam sekitar kita yang dulu hijau dan asri, kini banyak rusak karena ulah manusia. Padahal Bumi itu sendiri adalah rahim kehidupan, apakah kita peduli terhadap rahim kehidupan yang memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia.

Dok. WKRI ParungKarena itu, kita perlu melakukan pertobatan ekologi. Salah satu wujud pertobatan ekologi adalah dengan mengubah sampah menjadi berkah. Hal yang paling mudah untuk pengolahan sampah adalah dengan memilah-milah terlebih dahulu sampah sisa sayuran yang tidak dimasak atau kulit buah yang tidak dimakan. Ada cara mengolah tanpa membeli alat komposter, yaitu gunakan wadah berupa keranjang plastik yang ada lubang-lubangnya kemudian masukkan kardus yang dasarnya sudah diberi bantal sekam dan tebar kompos padat setebal 5 cm. Kalau tidak punya keranjang plastik bagaimana? Gunakanlah dua buah kardus. Kardus pertama sebagai pengganti keranjang dan diberi lubang-lubang kecil. Sedangkan kardus kedua dimasukkan dalam kardus pertama tadi yang sebelumnya sudah dialasi dengan sekam dan kompos.

[Baca juga: Mari Ikut Gerakan Ekologis]

Silakan buang sisa potongan sayur/buah yang tidak dimasak/dimakan ke wadah tersebut. Setiap kali ditambah agar diaduk dan semprot dengan MOL (Mikro Organisme Lokal), agar tidak bau dan cepat terurai. Bisa secara bertahap semprotnya sampai pada saat wadah sudah penuh. Kemudian tutup permukaan keranjang dengan kain sebelum ditutup dengan tutupan keranjang dan biarkan sampai kurang lebih 3 minggu maka sisa sayuran tadi  sudah jadi pupuk kompos.

Apakah sayuran basi bisa dicampur dengan potongan sayuran yang belum dimasak? Sebaiknya tidak dicampur dengan makanan basi agar tidak menimbulkan bau. Boleh dicampur asalkan dicuci bersih dan diperas airnya baru dicampur dengan sisa sayuran tadi.

Cairan MOL sebagai starter pengomposan dapat kita buat sendiri. Caranya sangat mudah. Siapkan botol plastik ukuran 1,5 liter, tape 1 ons, gula pasir 5 sendok makan. Lalu masukkanlah tape, gula pasir, dan air sampai 4/5 bagian dan kocok sampai tercampur/menyatu. Tidak perlu ditutup rapat, ditutup sekedarnya saja untuk menghindari masuknya binatang seperti lalat. Diamkan 3-4 hari dan jadilah MOL.

MOL yang sudah jadi bisa dibagi 2 di botol mineral ukuran yang sama 1,5 liter dan tuang air kembali sampai hampir penuh dan masukan 5 sendok makan gula pasir. Kita sudah memiliki 2 buah MOL tanpa harus membuatnya dari awal dengan bahan di atas. Nah, yang memelihara ayam atau kambing dalam kandang, dapat menyemprotkan cairan MOL supaya kandangnya tidak bau. Cukup mudah, kan? Silakan mencoba.

Ingat, masalah sampah masalah kita semua. Atasi sampah mulai dari dalam rumah sendiri. Ubahlah sampah untuk menjadi berkah bagi keluarga.* (Sin Ola/ WKRI)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*