Meneladani Keluarga Kudus Nazaret di “Zaman Now”, Bisa Nggak, Ya? (Bagian 2 -selesai)

God is calling, (Will you answer?)

Panggilan Tuhan sebagai kasih Karunia. Karena Bapa sungguh baik kepada kita, maka Allah Bapa telah memberi teladan istimewa kepada kita, Keluarga Kudus Nazaret, yang wajib kita teladani.

Teladan Bunda Maria

  1. Iman yang kuat.

Ketika Malaikat Gabriel datang di kota Nazaret (wilayah Galilea), Malaikat Gabriel berkata “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Luk 1:28). Maria menjawab panggilan itu, “Bagaimana hal itu mungkin  terjadi,  karena  aku   belum   bersuami?” (Luk 1:34). “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1: 38).

  1. Rendah hati dan bersedia menjadi saluran berkat bagi sesama.

Bunda Maria menunjukkan sikap rendah hati dan bersedia menjadi saluran berkat bagi sesama dengan mengunjungi rumah Elizabeth ketika Bunda Maria sedang mengandung. Elizabeth yang mendapat berkat itu pun memujinya, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

  1. Pandai Mengucapkan Syukur

Ucapan syukur Maria dapat kit abaca dalam “Nyanyian Pujian Maria” (Luk 1: 46-55)

Maria berkata, “Jiwaku Memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang, segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah Kudus.” (Luk 1: 46-49).

  1. Tangguh Berjuang demi Anak dan Keluarganya

Berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk mempersiapkan kelahiran Sang Putera, hingga kelahiran-Nya di kandang domba.

  1. Mencintai Anak Tanpa Pamrih

Meski memendam “perasaan” tentang “Rahasia Illahi”, Maria tetap setia pada Tuhan dan mencintai Putera-Nya sampai wafat di kayu salib.

Teladan Santo Yusuf

  1. Setia kepada Tuhan

Santo Yusuf sempat ingin diam-diam mau menceraikan istrinya. Namun ketika Tuhan bersabda, Santo Yusus tetap setia pada perintah-Nya.  (Mat 1: 19)

  1. Tulus hati (Mencintai Istri dan Anaknya)

Setia mendampingi istrinya, tanpa berbuat dosa hingga kelahiran Sang Putera (Mat 1:25)

  1. Bertanggung jawab

Mencarikan tempat tinggal, melindungi Maria dan kandungannya, memelihara dan membesarkan Sang Putera dengan kasih sayang dan ketulusan.

  1. Lamban Bicara, Tanggap Bekerja, Pengamat yang Baik

Santo Yusuf terlihat baik dalam persiapan kelahiran Yesus, memelihara dan membesarkannya sebagai “Tukang Kayu”. Mendukung istri dan anaknya untuk berkembang dan maju.

  1. Tegar dan Tangguh Menghadapi Tantangan (Adversity Quotient)

Situasi-situasi yang dihadapi Yusuf memang sulit. Kunjungan Malaikat yang pertama kali telah dijelaskan secara singkat. Tanpa banyak “bicara dan mengeluh”, atau bertanya “wani piro?” Yusuf mengambil tindakan yang menentukan. Ketika dia mendapat tugas yang teramat berat, yaitu membesarkan seorang anak yang bukan darah dagingnya sendiri dan mendedikasikannya kepada Allah semata, Yusuf taat kepada sang pemberi tugas.

Pernikahan: Jalan Menggapai Harapan dan Kebahagiaan

  • Harapan adalah mimpi dalam keadaan terjaga.
  • Harapan akan datangnya kebahagiaan karena hadirnya teman hidup yang akan mewujudkan impian.
  • Harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan, namun jangan sampai kenyataan memupuskan harapan.
  • Ketika menghadapi “Putus Harapan”, ingatlah selalu bahwa pernikahan adalah panggilan dan keluarga adalah rumah Tuhan.
  • Harapan selalu ditumbuhkan dalam keluarga sebagai impian bersama atau yang sering disebut dengan visi.
  • Ketika tidak mampu lagi menciptakan harapan, datanglah kepada Allah Bapa di Surga, karena Dia lah Sang Sumber Pengharapan Abadi.

Demikianlah “oleh-oleh” dari Perayaan Keluarga Kudus Nazaret, yang diselenggarakan pada Minggu (07/01) yang lalu di Puspas Bogor. Ada 20 umat Paroki St. Joannes Baptista yang turut menghadiri kegiatan tersebut.

Semoga semua keluarga menjadi keluarga yang bahagia. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Philip Tobler, penulis studi dari University of Zurich tentang Riset Kebahagiaan, disebutkan bahwa “Anda tidak membutuhkan uang dalam sejumlah besar dan kaya dulu untuk mulai berbagi dan bersedekah. Kebahagiaan kualitasnya sama meski uang yang disedekahkan besar atau kecil.”

Mari berbagi harta, waktu, uang, ilmu pengetahuan, senyum, dan apapun yang Anda miliki sekarang juga.* (P. Kamilin)

[ Baca sebelumnya: Meneladani Keluarga Kudus Nazaret di “Zaman Now”, Bisa Nggak, Ya? (Bagian 1) ]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*