Meneladani Keluarga Kudus Nazaret di “Zaman Now”, Bisa Nggak, Ya? (Bagian 1)

Demikianlah tema yang diambil dalam rangka Perayaan Keluarga Kudus Nazaret, yang diselenggarakan pada Minggu (07/01) di Puspas Bogor. Perayaan Keluarga Kudus Nazaret diawali Misa Kudus secara konselebran dipimpin oleh RD. Christophorus Tri Harsono yang dalam homilinya mengambil tema “Menentukan Pilihan yang Tepat, dengan Meneladan kepada Para Majus”.

Hidup keluarga adalah pilihan, menentukan pasangan adalah pilihan, profesi adalah pilihan dan semua yang telah kita pilih adalah anugerah Allah. Perjalanan para Majus dalam mencari pilihannya pun tidak lepas dari kesetiaan mengikuti petunjuk Allah melalui ilmu yang mereka miliki dengan mengikuti cahaya bintang yang mereka lihat di timur. Walaupun dalam perjalanannya bertemu dengan Raja Herodes dan diminta untuk kembali setelah menemukan tempat kelahiran Sang Juruselamat dunia, para Majus tetap setia dalam menentukan pilihanya mengikuti petunjuk Allah untuk tidak kembali menemui Raja Herodes. Setelah bertemu bayi Yesus di palungan, mereka melepaskan identitasnya sebagai raja serta kehormatannya untuk berlutut dan menyembah bayi Yesus serta mempersembahkan harta miliknya, emas, kemenyan, dan mur. Untuk itulah kita harus tetap setia terhadap apa yang telah kita putuskan, baik pasangan hidup kita, keluarga kita, profesi kita, dan juga iman kita akan Tuhan kita Yesus Kristus.

Dalam kesempatan tersebut, RD. Alfonsus Sutarno juga menyampaikan sekapur sirih. Keprihatinan dewasa ini bahwa banyak rumah biarawan/biarawati kekurangan penghuni, yang berakibat kesulitan perawatan, pemeliharaan sehingga beberapa tempat biarawan/ biarawati dijual menjadi hotel, tempat hburan, dan tempat ibadah agama lain. Sementara umat Katolik yang minoritas juga irit dalam keturunan/ anak yang berakibat semakin berkurangnya generasi yang mau masuk menjadi biarawan/ biarawati. Untuk itu, keluarga-keluarga Katolik jangan irit dalam berketurunan.

Usai perayaan ekaristis, para peserta diajak menggali harmoni Keluarga Kudus Nazaret bersama Dr. Sonny Suharso, SPsi, SE, MM., dosen Fakultas Psikologi Universitas Pancasila  dan RD. Alfonsus Sutarno, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Bogor. Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab secara jujur bagi keluarga-keluarga “zaman now”. Setiap kita bangun tidur, siapa yang pertama kali kali dipeluk dan dibelai, istri/ suami, anak, atau gadget untuk membuka GIF, Gojek, Instagram, Fanpage, Twitter dan lain sebagainya. Ini semua fenomena yang terjadi pada “zaman now”, hingga sentuhan-sentuhan pribadi, perjumpaan face to face, semakin asing terjadi di dalam keluarga. Yang terjadi memang secara fisik berdekatan, namun masing-masing asik dengan gadget-nya masing-masing.

Lalu siapa Generasi Milenial? Generasi Muda Milenial terlahir pada kisaran tahun 1980-2000-an. Milenials sendiri dianggap specsal karena generasi ini sangat  berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi. Generasi Milenial memiliki ciri khas tersendiri, yaitu:

  • Lahir pada saat sudah ada TV berwarna, gadget, internet, sosmed, mobil ber-AC, sangat melek teknologi ketimbang ayah/orangtua (generasi X) atau kakeknya (Generasi Baby Boomers).
  • Anak Mall, maunya instan, kurang tantangan fisik, malas gerak (Mager-Obesitas) dan over gizi.
  • Mereka kreatif dan inovatif, tidak suka bekerja rutin dari pukul 08.00-16.00. Flexi Time, Result Oriented.
  • Kurang peduli/ peka terhadap keadaan lingkungan sosial dan politik serta perkembangan ekonomi nasional & global.
  • Kebebasan menjadi gaya hidup dan cenderung hedonis materialistis.
  • Memiliki visi yang sangat imajinatif dan idealistis, yang penting “EXIST”

Di Indonesia sendiri, dari jumlah 255 juta penduduk yang tercatat, terdapat 81 juta yang merupakan Generasi Millenials (kurang lebih 30%). Sementara orangtua mereka yang tergolong generasi X  atau Baby Boomers, tidak terlahir di zaman teknologi informasi dan komunikasi, tapi mereka saat ini “terpaksa” hidup di “zaman now” seperti anaknya. Maka tidak heran, ketika orangtua seringkali “gagap” dan “gagal paham”terhadap anak-anaknya sendiri.* (Petrus Kamilin)

[Baca selanjutnya: Meneladani Keluarga Kudus Nazaret di “Zaman Now”, Bisa Nggak, Ya? (Bagian 2 -selesai) ]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*