Tak Kenal Maka Tak Sayang

Foto: Agnika/KOMSOS
Foto: Agnika/KOMSOS

“Anak-anak, kalian tau nggak kalau di sekitar gereja kita ini ada tempat ibadah lain? tanya Alex Makawangkel pada anak-anak Bina Iman Remaja (BIR) Paroki St. Joannes Baptista, Parung pada Minggu (06/04) usai perayaan ekaristi. Beberapa anak tampak menganggukkan kepala. Alex pun menambahkan, “Hari ini, kita akan berkunjung ke tempat ibadah lain karena kami ingin mengajarkan kalian toleransi. Apalagi dalam khotbah tadi, Romo mengingatkan tentang kasih.”

Kalimat pembuka tersebut disampaikan oleh Alex Makawangkel, Seksi Kerasulan Awam Paroki St. Joannes Baptista kepada sekitar 22 anak yang akan mengikuti program “Kunjungan Rumah Ibadah” hasil kolaborasi dari Seksi Kerasulan Awam, Jaringan Mitra Perempuan, WKRI, dan Komsos. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengajak anak-anak mengenal tempat ibadah lain yang berada di sekitar lingkungan gereja sehingga akan memunculkan sikap saling menghormati dan toleransi antar agama sejak usia dini.

Foto: Agnika/KOMSOS
Foto: Agnika/KOMSOS

Setelah dibagi menjadi beberapa kelompok yang didampingi oleh ibu-ibu WKRI, rombongan bergerak menuju ke Kelenteng Kwan Im Bio yang terletak di samping gereja St. Joannes Baptista, Parung. Sebelum melangkah keluar area gereja, anak-anak sempat diperkenalkan kepada beberapa orang petugas parkir yang selama ini membantu ketertiban parkir di gereja. Mereka adalah warga di sekitar gereja.

Setibanya di kelenteng, rombongan disambut oleh Nita, Ketua Perkin (perkumpulan ibu-ibu). Dengan penuh kesabaran, Nita menjelaskan bagian-bagian di tempat ibadah umat Konghucu tersebut. Bagian paling luar adalah altar Tuhan Yang Maha Esa. “Sebelum sembahyang, kami meminta izin dulu kepada Tuhan Yang Maha Esa,” jelas Nita. Bagian depan tempat ibadah ini disebut bio. Semua orang dapat beribadah di bagian ini. Sedangkan bagian paling belakangnya adalah ruang ibadah yang disebut “litang”.

Foto: Agnika/KOMSOS
Foto: Agnika/KOMSOS

Kelenteng Kwan Im Bio ternyata sudah berdiri 50 tahun sebelum gereja St. Joannes Baptista. Kala itu belum ada listrik. Anak-anak mendengarkan penjelasan dengan seksama. Bahkan beberapa dari mereka sangat antusias dan melontarkan beberapa pertanyaan. “Ketika sembahyang, umat Konghucu sering membawa buah-buahan. Apakah ada syarat khusus untuk buah tersebut dan apa artinya?” tanya Chika, siswa kelas 8. Nita menjelaskan bahwa persembahan buah itu melambangkan bakti, seperti bakti kita ke orangtua. “Buah-buahan yang dipilih diusahakan yang bijinya banyak. Itu melambangkan supaya membawa berkah bagi banyak orang. Dan usahakan jangan buah yang berduri,” tambahnya.

Hiasan lampion yang menggantung di kelenteng membuat Stefanus, siswa kelas 9 penasaran. “Kalau lampion apa artinya, Bu? tanyanya. Dengan sabar Nita menjelaskan bahwa lampion sebagai penerang dan melambangkan supaya ada jalan terang. Banyak hal baru yang diketahui oleh anak-anak dari kunjungan ke kelenteng. Dan kebetulan, pada saat yang bersamaan, di lintang sedang ada kegiatan anak-anak sekolah minggu Kwan Im Bio. Anak-anak Bina Iman Remaja sangat senang. Semoga di lain kesempatan, mereka dapat melakukan kegiatan bersama-sama.

Usai mengunjungi kelenteng, rombongan bergerak ke Vihara Avalokitesvara Bodhisattva yang terletak di jalan menuju gapura Metro Parung. Sayangnya, pengurus vihara sedang tidak berada di tempat. Namun rombongan diberi kesempatan untuk melihat bagian dalam tempat ibadah umat Budha tersebut.

Kegiatan kunjungan rumah ibadah ditutup dengan kunjungan ke kediaman alm. Bapak Gak Yan Kim atau yang semasa hidupnya akrab dipanggil Koh Yan. Beliau adalah salah satu tokoh yang berjasa menjaga tanah gereja. Istri, kedua anak, dan sanak keluarga Koh Yan sangat senang atas kunjungan rombongan anak-anak Bina Iman Remaja. “Bapak dulu menjaga tanah gereja sambil menanam jagung dan sayur mayur. Saya kalau main di empang dan lapangan,” tutur kedua anak Koh Yan. “Bapak di Tulang Kuning sini sejak 1966. Waktu itu belum menikah. Tanah Tulang Kuning juga masih gelap, belum ada listrik,” lanjut mereka.

Rombongan anak-anak merasa senang mendengarkan cerita tersebut. Mereka juga menikmati lontong, kacang, dan keripik yang disuguhkan. Sebelum pamit, anak-anak berdoa bersama di depan peti Koh Yan. “Terima kasih Koh Yan.”*(Agnika & Elmi/KOMSOS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*