Meneladani Kesetiaan Bunda Maria

Maria Diangkat ke SurgaTanda-tanda seorang wanita berhati mulia akan diangkat ke surga sudah disampaikan dalam Kitab Wahyu dalam bacaan pertama hari Minggu ini (Why 11: 19a: 12: 1,3-6a). Maka tampaklah suatu tanda besar di langit. Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dari dua belas bintang di atas kepalanya (Why 12:1).

Apa yang disampaikan dalam Kitab Wahyu tentang naiknya seorang wanita pilihan ke surga itu, dalam hal ini Bunda Maria, disabdakan oleh Tuhan jauh-jauh hari sebelum Bunda Maria ada di dunia dan kemudian menjadi perantara Yesus Kristus. Anugerah Tuhan yang kemudian mengangkat Bunda Maria ke surga, merupakan anugerah agung. Karya Tuhan yang agung setelah Bunda Maria menunjukkan kesetiaan yang luar biasa kepada Allah.

Kesetiaan Bunda Maria yang menjadi pendamping, ibu bagi Yesus sendiri bukanlah tanpa tantangan. Bahkan tantangan akan kesetiaan itu sangat berat, mulai dari saat mengandung, membesarkan Yesus, menyertai Yesus hingga harus menyaksikan sendiri peristiwa yang paling  menghancurkan hatinya : penyaliban Yesus. Sebagai seorang ibu dan manusia biasa, Maria mungkin akan lebih suka jika Yesus tidak sampai mengalami balada penyaliban yang sangat keji. Tapi Bunda Maria sadar jika penyaliban puteranya itu adalah karya penebusan dosa, kehendak Allah sendiri. Bunda Maria pun menerima dengan ikhlas sekaligus menunjukkan kesetiaan yang luar biasa atas kehendak Allah itu.

Allah sendiri memang telah menjamin bahwa peristiwa-peristiwa memedihkan yang dialami oleh Bunda Maria  ketika dengan kesetiaannya terus menyertai Yesus, akan berujung pada kemenangan. Dalam hal ini adalah maut akan dikalahkan sendiri oleh Allah. Dan Yesus pun memang akhirnya berhasil mengalahkan maut itu, bangkit dari mati pada hari ketiga serta kembali bersatu dengan Allah Bapa di surga. Berita tentang  kebangkitan itu tertuang dalam bacaan kedua hari Minggu ini (1 Kor. 15: 20-26), ‘’Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah bangkit dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal’’.

Dalam bacaan Injil hari ini  (Luk. 1:39-56), kita bisa menghayati  bahwa sebagai wanita mulia pilihan Allah untuk kehadiran Yesus di dunia, keistimewaan tentang Maria itu  diungkapkan oleh Elisabet. Ketika sedang mengandung Yohanes Pembaptis, Elisabet dikunjungi Maria. Bayi dalam kandungan Elisabet langsung melonjak ketika Maria memberikan salam. Elisabet pun penuh dengan roh kudus.

Dengan rendah hati dan penuh rasa syukur Elisabet pun berseru, ‘’Siapakah aku ini sampai ibu Tuhan ku datang mengunjungi aku?’’ (Luk.1 : 43).

Rasa syukur yang dialami oleh Elisabet bisa kita rasakan sendiri ketika kita sebagai umat Katolik berdoa langsung kepada Bunda Maria baik melalui doa rosario, novena,  ziarah ke goa-goa Maria,  maupun doa-doa devosi kepada Bunda Maria. Sebagai umat Katolik kita bersyukur karena untuk berdoa kepada Bunda Maria ada banyak cara. Apalagi bentuk dan cara doa-doa itu disampaikan langsung oleh  Bunda Maria sendiri melaui berbagi peristiwa penampakan yang telah diakui oleh Gereja Katolik.

Melalui doa-doa yang diajarkannya, Bunda Maria selalu menunjukkan seorang ibu yang peduli kepada putra-putri Allah yang sedang lemah dan menderita. Banyak sekali doa-doa kepada Bunda Maria telah dikabulkan seperti sering diumumkan dalam doa ucapan syukur di perayaan Ekaristi tiap hari Minggu. Doa-doa yang terkabulkan itu menunjukkan bahwa Bunda Maria memang sangat peduli kepada umat Tuhan. Terutama bagi mereka yang dengan tekun berdoa, berkarya dalam berbagai pelayanan, dan terus berjuang keras demi  menunjukkan kesetiaan serta ketakwaan kepada Tuhan. Dalam tantangan kehidupan jenis apapun hendaknya kita terus mengutamakan kesetian terhadap Allah.

Seperti kehidupan penuh tantangan yang pernah dialami oleh Bunda Maria, mengutamakan kesetiaan terhadap rencana dan kehendak  Tuhan-lah yang harus dinomorsatukan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, suara Tuhan, suara hati  untuk selalu berbuat baik terus bergema di relung hati kita. Maka laksanakanlah suara Tuhan itu dengan penuh suka cita dan kesetiaan seperti telah diteladankan oleh Bunda Maria sendiri.

‘’Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakannya kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana,’’ (Luk.1: 45).* (Agustinus Winardi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*