Ziarah Rohani Lingkungan Mother Teresa

Dok. Lingk Mother Teresa
Dok. Lingk Mother Teresa

“Keluarga Bersaksi dan Mewartakan Sabda Allah.” Itulah tema yang terbaca dari spanduk Ziarah Rohani Lingkungan Mother Teresa pada Sabtu (8/10/2016) yang lalu. Ziarah tersebut dilaksanakan di Lembah Karmel Cikanyere, Cipanas. Ziarah yang digagas oleh Orang Muda Katolik Lingkungan Mother Teresa itu merupakan satu praktik kecil dari tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2016 : “Keluarga Bersaksi dan Mewartakan Sabda Allah”.

Sebuah kenyataan bahwa minat umat dari tahun ke tahun sangatlah kurang untuk menghadiri sharing Kitab Suci selama BKSN membuat pengurus lingkungan berkolaborasi dengan OMK lingkungan memunculkan suatu gagasan. Dalam setiap pertemuan Kitab Suci sebagai rangkaian usaha pemahaman mengenai “Keluarga Bersaksi dan Mewartakan Sabda Allah”, akan diikuti dengan rapat panitia ziarah. Sebelumnya sudah ditetapkan bahwa panitia ziarah adalah OMK Lingkungan Mother Teresa. Dengan gagasan itu, ada banyak OMK yang mengikuti kegiatan pendalaman kitab suci.

[Baca juga: Ziarah Sehari Sembilan Gereja]

Dok. Lingk Mother Teresa
Dok. Lingk Mother Teresa

Hari yang dinanti tiba. Para peserta ziarah yang terdiri dari keluarga (ayah, ibu, dan anak yang berjumlah 33 keluarga (106 Orang), berangkat pukul 05.30 WIB dengan menggunakan dua bus besar. Dalam perjalanan menuju Lembah Karmel, di dalam bus, panitia mengadakan acara kuis tebak kata dalam ayat Kitab Suci sehingga terbentuklah sebuah kalimat “Yesus adalah Juruslamat Manusia”. Peserta kuis adalah orang tua dan anak-anak. Acaranya sangat seru dan sudah pasti yang benar menjawab akan mendapat hadiah.

Rombongan tiba di tempat ziarah pada pukul 10.00 WIB. Peserta bebenah diri kemudian dilanjutkan dengan Jalan Salib. Mengenang kisah sengsara Tuhan Yesus, anak-anak dan orangtua mengikutinya dengan khusuk. Perhentian demi perhentian kami lalui. Ketua Lingkungan, Yoseph M. A. Wator, yang menjadi pemandu Jalan Salib, membacakan peristiwa perhentian dengan penuh makna yang membuat peserta terbawa dalam suasana haru dan instropeksi diri.

Dengan memaknai peristiwa-peristiwa dalam kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus melalui instropeksi diri, diharapkan kecintaan kita kepada Tuhan Yesus makin besar karena cinta kasih-Nya begitu besar dengan mengorbankan nyawa-Nya untuk kita umat-Nya. Wujud cinta kita kepada Tuhan Yesus adalah sebagai saksi dan pewarta Sabda Tuhan Yesus dengan tutur kata, tingkah laku, dan perbuatan yang selalu dalam kehendak-Nya. Hal tersebut kita lakukan kepada anggota keluarga, gereja, dan lingkungan masyarakat kita masing-masing, atau dengan kata lain menjadi  “Garam dan Terang Dunia”.

Setelah Jalan Salib, peserta berkumpul di depan Goa Maria, penolong sejati, memohon penyertaan Bunda Maria dengan berdoa Rosario. Selanjutnya, rombongan makan siang bersama. Peserta ziarah yang masih kecil, yaitu anak-anak usia TK dan SD juga turut bergembira dengan mengikuti lomba mewarnai sebagai puncak dari rangkaian ziarah. Sebelum pulang, rombongan berfoto bersama dan membeli suvenir di toko rohani.* (Helena N. B. Wator)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*