Sejarah Paroki

For Favicon

Paroki Santo Joannes Baptista Parung

Nama Pelindung : Santo Joannes Baptista
Buku Paroki : Sebelumnya di Depok Lama
Alamat : Kp. Tulang Kuning RT 01/06 – Restoran Lebak Wangi, Parung, Depok, Jawa Barat
Telepon (0251) 8610067
Romo Paroki: RD. Albertus Simbol Gaib Pratolo

Umat Paroki St. Joannes Baptista, Parung telah terbentuk melalui perjalanan yang panjang dan cukup memprihatinkan. Berawal dari masuknya para pendatang dari luar daerah, yang mengikuti arus perkembangan Jakarta dan Jawa Barat. Perkembangan yang cukup signifikan terjadi melalui program guru inpres, pada dasawarsa tujuhpuluhan. Banyak guru-guru inpres dari luar yang ditempatkan di Kecamatan-kecamatan di sekitar Parung.

Pada awal mula, Umat Parung merupakan bagian dari Paroki Santo Paulus, Depok Lama. Mereka terbagi dalam lima stasi, yaitu Stasi Gunung Sindur, Stasi Bojong Gede, Stasi Parung, Stasi Duren Seribu, dan Stasi Lebak Wangi. Stasi Duren Seribu mendapat pelayanan misa dua kali sebulan, sedangkan keempat stasi yang lainnya hanya sekali sebulan secara bersamaan. Hal inilah yang menyebabkan pembinaan iman umat terasa kurang efektif.

Dalam sebuah pertemuan dan misa wilayah seluruh stasi di rumah Bapak Wempie Sukendar, 19 November 1989, atas prakarsa Pater Hugo Brod, OFM, Pastor Paroki Santo Paulus pada waktu itu, disepakati peleburan semua stasi menjadi satu dengan nama baru: Stasi Santo Joannes Baptista. Pelayanan misa untuk stasi hasil ‘merger’ ini akan diberikan setiap hari Minggu, dengan mengambil tempat di rumah Bapak Wimpie Sukendar. Jumlah umat hanya 85 KK (sekitar 300 jiwa).

Perkembangan selanjutnya, untuk mengantisipasi bertambahnya jumlah umat dan kebutuhan pembinaan pastoral, maka diimpikan perlunya sebuah Gereja Stasi. Apalagi pada waktu itu telah timbul keberatan terhadap penggunaan rumah tinggal sebagai tempat ibadat, dari beberapa warga non-kristiani di sekitar rumah Bapak Wimpie. Melalui Surat Keputusan No. 036/DP/II/1990 dan disetujui oleh Mgr. Ignatius Harsono, Pr., dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja, dengan tugas pokok menyiapkan lahan dan segala yang dibutuhkan untuk sebuah gereja. Sejak tahun 1992, perayaan ekaristi mingguan dipindahkan pelaksanaannya ke Restoran Garden Lebak Wangi, milik Keluarga Bapak F. Djohari.

Umat terus bertambah. Pelayanan pastoral harus dilakukan dengan lebih serius. Maka, tak ada pilihan lain, Stasi Parung harus ditingkatkan statusnya menjadi sebuah Paroki. Sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalam Hukum Gereja, melalui Surat No. 010/IX/JB/2000, umat Stasi Parung mengajukan permohonan kepada Uskup Bogor untuk peningkatan stasus ini. Kemudian dengan SK No. 47/SKB/IX/00, tertanggal 24 September 2000, Uskup Bogor meningkatkan status Stasi ini dan meresmikannya menjadi Paroki Santo Joannes Baptista, Parung. Adapun susunan pengurus Dewan Pastoral Paroki untuk periode pertama 2000-2003 yaitu: Pater Vitalis Nonggur, OFM (Ketua), Patrick Suwartho (Wk. Ketua), Thomas Suhardjono (Sekretaris I), Ny. Budi Kentarti Tampatty (Sekretaris II), Ny. Rosilawati Dewi S (Bendahara I), dan Ny. Rosalia Wempie Sukendar (Bendahara II). DPP ini juga dilengkapi dengan seksi-seksi: Pewartaan, Liturgi, Kerasulan Keluarga, PSE, Kepemudaan, HAK, Kewanitaan, Komsos, dan Perlengkapan.

Fotografer: Haposan
Fotografer: Haposan

Selanjutnya, melalui SK No. 48/D/SKB/IX/00, Uskup Bogor juga menyatakan berdirinya Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) Paroki Santo Johanes Baptista, Parung, dengan susunan pengurus sebagai berikut: P. Vitalis Nonggur, OFM (Ketua), Patrick Suwartho (Wk. Ketua), Thomas Suhardjono (Sekretaris), Rosilawati Dewi S (Bendahara), FX Sidi Harsoyo (Anggota), Roy Edward Tampatty (Anggota), YPC Yodopratomo (Anggota), dan Bonaventura Huwa (Anggota). Pada saat yang bersamaan pula, Pastor Paroki mengeluarkan SK No. 001/DP/IX/2000 untuk memperbaharui Panitia Pembangunan Gereja.

Paroki Parung kini telah memiliki empat persil tanah, yang dibeli secara bertahap untuk menyiapkan pendirian gereja di Kampung Tulang Kuning, Dewa Waru, Kecamatan Parung, Depok. Sedangkan pengurusan IMB kini masih dalam proses pengupayaan.
(Bahan/naskah disiapkan dan disusun oleh Mgr. Michael Angkur, OFM)