Nonton Bareng dan Diskusi Film “Before the Flood” Temu Orang Muda Kebangsaan

Assalamualaikum wr wb, Syalom, Salam Sejahtera, Om Swastiastu, Wei de dong Tien, Namo Buddhaya

whatsapp-image-2017-07-29-at-19-34-45Kita semua punya tanggung jawab yang sama pada Bumi ini. Itulah komitmen yang diserukan oleh semua kawan-kawan pasca acara Nonton Bareng dan Diskusi film “Before the Flood” bersama Temu Orang Muda Kebangsaan dan Rm. Andang Binawan SJ pada Sabtu (30/07/2017).

Kalau bicara soal rusaknya lingkungan hidup, terkadang kita secara langsung menunjuk ini adalah akibat mereka para pemilik pabrik, perusahaan tambang, perusahaan kelapa sawit, minyak bumi, dan masih banyak lagi. Merekalah penyebab rusaknya bumi kita, polusi udara yang menyebabkan tipisnya lapisan ozon kita, hilangnya hutan sehingga bumi semakin panas dan lain-lain. Namun setelah saya nonton dan diskusi bareng film “Before the Flood” di Griya Gusdur pada Sabtu lalu, saya tersadar ternyata perilaku kita sehari – hari juga sangat berpengaruh terhadap polusi udara. Disamping asap kendaraan, asap rokok, asap pembakaran sampah, ada yang tak kita sadar, yaitu efek dari metana (CH4) yang ternyata 3x lipat lebih berbahaya dari karbondioksida (CO2) sebagai gas rumah kaca. Jadi perbandingannya 1:3, atau 1 metana setara dengan 3 karbondioksida .

[Baca juga: Pengelolaan dan Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga ]

Jika hal ini terus dibiarkan berlangsung seperti ini, akan semakin banyak es di kutub yang akan mencair akibat pemanasan global. Daerah-daerah yang tidak pernah terkena banjir menjadi banjir, cuaca yang semakin tidak menentu, semakin tingginya volume air laut dan masih banyak lagi. Itulah akibat dari pemanasan global.

Lalu tindakan apa yang mampu kita lakukan untuk ikut berperan serta dalam menjaga lingkungan hidup? Sederhana saja, yaitu dengan mulai mengurangi makan daging sapi dan semua olahan dari daging sapi. Mengapa? Karena peternakan sapi adalah penghasil metana (CH4) terbanyak di dunia. Hal sederhana yang kedua ialah mengurangi sampah pribadi kita masing-masing, terutama sampah plastik. Di lautan, saat ini sampah yang paling banyak ialah sampah plastik, terutama plastik mie instan dan plastik air minum kemasan. Oleh karena itu, mari mulai dari sekarang kita pribadi masing-masing membiasakan membawa tumbler / botol minum. Walaupun mungkin terbuat dari plastik juga, tetapi bisa dipakai berulang kali.

Pada akhir diskusi, Rm. Andang menyimpulkan bahwa kita manusia dan lingkungan sesungguhnya saling berhubungan dan berketergantungan. Dan mengingat pula sifat dasar manusia yang terkadang egois dan pelupa sehingga perlu untuk selalu diingatkan. Usaha mengingatkan ini dapat kita lakukan dengan kampanye di dunia maya, misalnya dengan menyebar foto dan video di media sosial. Namun yang terpenting ialah dengan gaya hidup kita sendiri yang ramah lingkungan. Mungkin awalnya kita akan dianggap aneh karena membawa botol minum sendiri dan menolak air minum dalam kemasan misalnya, tapi lama-kelamaan orang akan sadar dengan kampanye yang kita lakukan. Saat kita semua peduli lingkungan maka yang tidak peduli lingkunganlah yang dianggap aneh. Namun kita harus bersabar sampai hal tersebut terwujud di masyarakat.

Satu pesan dari Rm. Andang menutup diskusi kemarin yang bisa kita jadikan pegangan dalam upaya menjaga lingkungan hidup, “Kita tidak boleh hanya meyalahkan orang/ pihak lain saja, tetapi harus lihat diri kita sendiri. Marilah kita tunjuk diri sendiri untuk memiliki andil dalam pemanasan global.”* (Vincentius Andy/ OMK)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*