Mengenal Lebih Dekat Romo Gaib

Romo GaibSudah sejak 21 Agustus 2011 silam, Romo Gaib menerima tugas sebagai Pastor Koordinator Paroki St. Joannes Baptista Parung. Namun tidak semua umat berkesempatan untuk mengenal lebih dekat Romo yang sering mengenakan jubah hitam ini. Karena itulah, Komsos menulis sosok RD Albertus Simbol Gaib Pratolo, Pr. Beberapa waktu yang lalu, Romo Gaib bersedia membagi kisah masa kecil dan arti Natal bagi beliau. Berikut adalah penuturan beliau…

Albertus Simbol Gaib Pratolo adalah nama saya yang diberikan oleh Bapak dan Ibu saya. Mengapa Bapak dan Ibu saya memberi nama itu? Mungkin nama itu mempunyai arti. Tetapi sayang, saya sendiri tidak tahu artinya, karena sebelum saya bertanya arti nama saya kepada mereka, Bapak dan Ibu saya sudah meninggal dunia.

Kakak sulung dan kakak kedua pernah memberi tahu arti nama saya, tetapi saya tidak percaya, karena jelas sudah tidak otentik, bias saja hanya rekayasa. Jadi sampai sekarang saya tidak tahu arti nama saya. Siapa yang mengartikan nama saya silakan saja. Lagipula kata Shakespeare, “Apa sih artinya sebuah nama? Hehehe…

Oya, dalam keluarga, saya anak ke-8 dari 10 bersaudara. Saya laki-laki bungsu dengan 2 adik perempuan. Orang biasa memanggil saya dengan “Gaib”. Dari kecil, saya mempunyai kebiasaan yang aneh, berbeda dengan kebiasaan anak-anak kecil seusia saya pada waktu itu. Bahkan berbeda pula dengan kebiasaan saudara-saudara saya.

Sedari kecil saya sudah berdisiplin dengan tugas-tugas yang ada. Seluruh tugas saya lakukan seperti air mengalir, berjalan rutin tanpa beban, biasanya kalau saya sudah selesai belajar pukul 21.00 saya tidak langsung tidur tetapi keluar rumah menuju jembatan persawahan di luar desa. Saya duduk di bibir jembatan, berdoa, atau sekedar diam sampai pukul 22.00. Mulai dari renungan, doa, hingga berdiam diri. Dari hal itulah saya merasakan ketenangan yang menguatkan, yang saya rasakan sebagai kekuatan yang bukan dari diri saya tetapi kekuatan luar kosmis (kekuatan Ilahi barangkali).

Saya ingin merasakan kekuatan itu terus-menerus. Namun bagaimana caranya? Saat dalam kebingungan untuk merasakan dan memikirkan kekuatan itu, saya mendapat bimbingan oleh Romo Wignjo Hartoyo, Pr. (almarhum). Saat itu Romo yang akrab dipanggil dengan Romo Wignjo mengatakan supaya saya masuk seminari. Tidak membuang kesempatan, langsung saya masuk seminari setelah lulus SMA. Mungkin itu awal panggilan saya untuk menjadi seorang imam, dan itu pula permulaan menggapai cita-cita saya sedari kecil yang memang ingin menjadi imam.

Dari kecil saya hidup dalam keluarga Katolik. Dalam satu kampung, hanya keluarga Bapak dan Ibu saya yang beragama Katolik, yang lain beragama Islam. Namun itu tidak menjadi masalah, karena di kampung saya umat beragama hidup harmonis, solider, dan penuh toleransi antar umat beragama. Justru dari perbedaan umat beragama yang harmonis itulah saya mendapatkan pengalaman yang mengesan dan bermakna tentang arti Natal.

Suatu ketika pada saat saya mau mengikuti misa malam Natal di gereja St. Aloysius Mlati, Sleman, saya sudah ditinggal oleh Bapak, Ibu, dan saudara-saudara saya karena waktu itu saya tertidur. Saya terbangun pada pukul 23.00. Saya kaget, semua sudah pergi.Saya mau pergi dengan siapa? Mau pergi sendiri tidak berani karena masih kecil, padahal misa dimulai pada pukul 00.00.

Tanpa banyak pikir saya langsung ke rumah tetangga sebelah yang beragama Islam, minta diantar ke Gereja hehehe. Ternyata tetangga sangat senang mengantar saya. Malahan anak-anaknya diajak mengikuti misa, walaupun mereka Islam. Itulah yang mengesankan saya. Lalu saya ingat khotbah Romo yang memimpin misa bahwa Yesus datang untuk semua orang yang merindukan kedamaian dan ketentraman. Yesus tidak memandang dan membedakan siapa yang datang kepada-Nya, baik Katolik, Kristen, Islam, Budha, dan yang lainnya. Semua akan mendapat damai yang datang dari pada-Nya. Inilah rupanya makna Natal yang dari kecil sampai sekarang saya hayati dan saya resapi. Yesus Kristus yang datang ke dunia, sungguh solider, toleransi, pengertian dan cinta kepada semua orang. Kalau kita bagaimana, ya? Hehehe. Mestinya begitu juga kali ya…

Yesus sungguh penuh pengertian, perhatian, dan cinta kepada siapa pun tidak membedakan status sosial, ekonomi, suku, agama, dan seterusnya. Ini mengesan bagi saya bahwa Ia Putera Allah yang hadir selalu memberi kelegaan dengan kelemah-lembutan, rendah hati, dan cinta kepada siapa pun yang mau datang kepada-Nya. Seperti tertulis dalam Injil Matius 11:28-30, inilah ayat Kitab Suci favorit saya. Karena saya sungguh yakin setiap orang (terutama yang berbeban berat, letih, lesu) pasti akan mendapat kelegaan dan ketenangan jiwa kalau mau datang kepada-Nya.

DSC_0334Perhatian dan pengertian Yesus yang begitu besar kepada umat manusia, memberi inspirasi bagi saya untuk memakai moto hidup; “Understanding everybody long for it”. Karena dari dulu, apalagi di zaman sekarang, setiap orang merindukan pengertian dan perhatian, sapaan dengan senyum yang ramah dan tulus dari yang lainnya. (Dikisahkan kembali oleh Agnika)