Lomba Menu Makanan Sehat di HPS 2016 Keuskupan Bogor

Lomba Menu Pangan Sehat (2)Hari Pangan Sedunia (HPS) di Keuskupan Bogor tahun ini begitu meriah. Perayaan yang dilaksanakan pada Sabtu (15/10/2016) ini padat pengunjung yang sangat antusias mengikuti berbagai kegiatan. Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah lomba menu makanan sehat non beras dan gandum. Lomba ini diikuti oleh 16 tim dari tiap perwakilan paroki atau kelompok kategorial se-Keuskupan Bogor.

[Baca Juga : Paroki Parung di Pameran HPS 2016 Keuskupan Bogor]

Dalam perlombaan yang juga dihadiri oleh Bapa Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, O.F.M., ini, setiap tim dalam lomba diminta untuk menyajikan menu makanan sehat non beras atau gandum untuk porsi 4 orang dengan budget maksimal Rp 100.000,-. Dalam lomba ini, peserta tidak diperkenankan menggunakan menu dari daging, dan sumber protein hewani yang diperkenankan hanya berasal dari ikan. Semua bahan pangan harus diolah tanpa menggunakan penyedap rasa buatan.

Tujuan dari menu non beras atau gandum ini adalah supaya lebih banyak menu atau bahan lokal yang bisa diangkat menjadi menu pangan utama sehingga lebih banyak sumber pangan baru yang bisa dimanfaatkan. Budget maksimal Rp 100.000,- juga bertujuan supaya manusia bisa lebih belajar berhemat dengan menu sederhana dari alam di sekitar kita yang ternyata juga bisa menghasilkan menu yang menyehatkan. Selain itu, dengan memanfaatkan banyak hasil alam, kita bisa lebih belajar mensyukuri kebaikan Tuhan kepada manusia lewat ibu bumi yang senantiasa menyediakan semua kebutuhan bagi semua makhluk ciptaan-Nya.

Dalam lomba ini terlihat sekali kreativitas dan inovasi dari tiap tim dalam menggali bahan lokal yang ada di lingkungan sekitar yang jarang dimanfaatkan dan dibuat menjadi menu makanan yang menarik dan menggugah selera. Ada yang mengangkat pisang batu yang selama ini hanya dimanfaatkan untuk pakan burung. Dengan inovasi sederhana, pisang batu bisa dimanfaatkan menjadi sayuran yang sangat menggugah selera. Ada juga yang memanfaatkan menu pangan yang sudah lama menghilang, yaitu nasi jagung. Harapannya, nasi jagung yang selama ini sudah tidak populer, dengan inovasi dan kreativitas menjadi lebih populer dan termanfaatkan sehingga nilai ekonomi bahan tersebut juga bisa terangkat. Ada juga yang memanfaatkan labu kuning yang diolah menjadi minuman segar serta talas yang dimanfaatkan sebagai menu pangan utama.

Lomba Menu Pangan Sehat (1)Paroki Santo Joannes Baptista, Parung juga tidak ketinggalan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Tim dari paroki yang diwakili oleh lingkungan Santo Markus masih mengangkat menu utama sawut singkong. Alasan pemilihan bahan ini adalah di lingkungan sekitar Parung, lahannya banyak dimanfaatkan untuk kebun singkong sehingga bahan mudah didapat dan tidak bergantung pada musim. Dengan proses pengolahan yang sederhana, ternyata menu sawut singkong yang dipadu dengan urap, tempe dan tahu bacem, sambal teri, dan jus stroberi-mangga cukup banyak digemari oleh pengunjung.

Banyaknya inovasi, kreativitas, dan rasa yang menggugah selera membuat tiga orang tim juri yang sudah cukup berpengalaman dalam bidang pengolahan pangan dan nutrisi menjadi bingung dalam menentukan juara lomba ini. Nilai yang diperoleh dari tiap tim pun hanya selisih tipis. Tampil sebagai juara 1 adalah tim dari Paroki Serang yang mengangkat pisang batu menjadi sayuran yang dipadu dengan nasi jagung dan berbagai olahan dari bahan lokal. Juara 2 adalah dari Paroki Semplak yang mengangkat labu kuning sebagai minuman segar yang dipadu dengan nasi jagung dan ikan dabu-dabu.

Lomba Menu Pangan Sehat (3)Meskipun dalam lomba ini belum bisa membawa pulang piala kejuaraan, ada banyak proses pembelajaran dan wawasan baru semakin terbuka bagi kami tim dari Paroki Parung. Pengalaman, informasi yang sangat berharga, persahabatan dan persaudaraan, serta terbukanya mindset tentang alam yang begitu banyak menyediakan bahan untuk bisa diolah dengan inovasi dan kreativitas yang baru menjadi oleh-oleh yang sangat berharga bagi kami semua. Semoga dengan lomba ini kami menjadi lebih menghargai alam, semakin bersyukur atas karunia Tuhan lewat kebaikan ibu bumi kita, dan bisa menampilkan hasil karya yang lebih baik untuk lomba di tahun yang akan datang. Tuhan Memberkati.* (Sisilia / Lingk. St. Markus).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*