Pertobatan Membuat Saya Lebih Damai dan Lega

webDulu cita-citanya bukanlah menjadi seorang polisi. Beliau menjadi polisi karena suatu peristiwa. Seorang temannya ditodong dan ditusuk oleh penodong di sebuah bank. Refleksnya membuat dia menusuk sang pelaku. Semenjak itu, beliau merasa harus menjadi seorang polisi. Beliau sempat terjebak dalam dunia hitam tetapi bisa menemukan terang yang membawanya pada pertobatan kepada Tuhan. Inilah kisah kesaksiannya…

Nama saya Joko Iryanto. Dulu saya bertugas di Buser Polres Metro Jakarta Pusat. Dulu saya tak tanggung-tanggung, kalau ada perampok atau pembunuh yang tertangkap oleh saya, pasti akan mati di tangan saya. Waktu itu banyak yang saya sakiti, banyak yang saya tembak. Sampai-sampai saya tidak bisa menghitung jumlahnya. Itu semua saya lakukan sebelum saya bertobat.

Sebagai seorang polisi yang sering berhadapan dengan penjahat, saya tidak merasa takut karena saya memiliki banyak ilmu. Di antaranya saya kebal terhadap bacokan benda tajam, saya bisa menerawang orang, dan saya tidak bisa dikalahkan. Namun dunia hitam itu saya tinggalkan, saya bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Awal pertobatan saya dimulai ketika pada suatu hari saya menerawang komandan saya, Bapak Yossi. Ketika saya melihat, kok beliau terlihat sangat terang. Saya pun mengintip dari pintu dan melihat ternyata beliau sedang membaca alkitab. Pada detik itu, saya merasa beliau saja yang pangkatnya lebih tinggi dari saya dekat dengan Tuhan, kok saya tidak. Semenjak itu saya mulai bertobat. Saya mengikuti semacam persekutuan doa. Di situ saya merasa takut ketika memasuki ruangan padahal sebelumnya tidak ada satu pun di dunia ini yang membuat saya merasa takut. Saat homili berlangsung, saya mengamuk. Tiba-tiba ada yang berseru “Dalam nama Yesus!” dan saya langsung terpental. Setelah peristiwa itu, saya lepaskan semua ilmu yang ada dalam diri saya. Saya benar-benar bertobat dan menyerah pada kuasa Tuhan.

Namun ternyata pertobatan saya tidak berjalan mulus. Saya masih diuji sama Tuhan. Pada bulan April 2009, ketika hendak menangkap penjahat, saya merasa tidak enak badan. Kepala saya terasa pusing. Saya pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Malamnya, saat hendak berdoa, saya tidak bisa berbicara dengan lancar. Yang keluar dari mulut saya hanyalah “Nama Yesus Kristus”. Badan saya menjadi kaku, mulut miring, tangan dan badan lumpuh. Ya, saya terserang stroke!

Sebagai seorang polisi yang dulu selalu aktif, penyakit ini sempat membuat saya putus asa. Bahkan saya pernah berniat bunuh diri dengan menggunakan senjata saya. Ketika istri saya mengantarkan caos dahar romo, saya membuka laci tempat menyimpan senjata. Puji Tuhan! Laci itu terkunci. Tepat pada saat itu, ada telepon masuk yang ternyata berasal dari komandan saya, Bapak Yossi. Tuhan sungguh sangat baik. Telepon itu terasa seperti sapaan dari Tuhan supaya saya selalu kuat. Saya tidak jadi bunuh diri.

Saya menjadi kuat kembali karena melihat anak saya, melihat istri saya. Kami berdoa Doa Malaikat Tuhan setiap jam 6. Dua bulan pertama semenjak sakit, saya tidak bisa berjalan. Saya pun berdoa, “Tuhan, saya tidak mau begini. Ampunilah, saya memang banyak berdosa.” Seiring berjalannya waktu, Puji Tuhan, saya mengalami perkembangan. Empat bulan kemudian saya mulai berjalan kuat. Mulai bisa berjalan jauh. Enam bulan berikutnya sudah mulai bisa lari. Mulut saya sudah tidak miring. Bicara saya sudah jelas. Bahkan sekarang saya sudah bisa menyetir. Saat ini tinggal tangan saya yang menunggu jamahan dari Tuhan.

Di saat sakit itu, ada bacaan yang selalu menguatkan saya, yaitu Yohanes…..Sakitmu belum seberapa…. Mukjizat Tuhan itu sungguh sangat nyata dalam hidup saya. Hal itu sesuai dengan lagu favorit saya “Kurasakan kasih-Mu Tuhan….” Sekarang setiap jam 10 pagi, saya mendoakan Doa Bapa Kami sebanyak 75 kali dan Salam Maria sebanyak 50 kali. Setelah itu saya baca alkitab Mazmur 115 untuk menguatkan iman saya. Kini saya merasa lebih damai, lebih lega. Kapan pun Tuhan memanggil saya, saya siap.

Ini mungkin jalan Tuhan supaya saya sadar dan bertobat. Sekarang ketika sedang emosi, seperti ada yang mengingatkan di telinga saya. Saya sungguh sangat bersyukur memiliki istri yang sanat mengasihi, mengguatkan, dan mendukung saya. Hidup saya sekarang baru. Tak hanya saya yang merasa senang. Istri dan anak-anak pun bahagia karena melihat perbedaan dalam pribadi saya. Dulu saya suka ngamuk dan membuat mereka takut. Sekarang saya lebih sabar.

Mungkin ada beberapa orang yang beranggapan, “Sukurin loe sekarang sakit,” karena melihat sikap dan perbuatan saya di masa lalu. Namun, saya ingin membagikan kisah ini supaya semua orang melihat bahwa kuasa Tuhan sungguh besar. Jika saat ini ada yang memiliki penyakit seperti saya, jangan putus asa! Tuhan Yesus kita itu ampuh. Dia menyembuhkan meskipun tidak seketika. Yakin dan percayalah akan jamahan Yesus. Saya juga berpesan kepada mereka yang masih percaya kepada ilmu-ilmu (dunia hitam –red.). Lepaskanlah semua itu karena tidak ada yang lebih kuat dari kuasa Yesus. Tuhan memberkati!

*) dikisahkan kembali oleh Agnika