Harta

“Berilah aku cinta dan rahmat-Mu ya Tuhan, aku sudah menjadi kaya dan tidak mengharapkan apa-apa lagi”( St.Ignatius dari Loyola ).

Dalam renungan kali ini, kita membicarakan HARTA. Harta adalah sebuah kata yang mempunyai nilai magis dan daya gravitasi yang sangat tinggi sehingga tidak ada batasan waktu. Orang selalu berlomba untuk dapat meraihnya walau dengan cara apapun. Kalau perlu, ada yang baku bunuh demi sang harta tersebut. Bahkan tali persaudaraan sudah tidak dipandang lagi hanya demi harta. Pendek kata, ada sebagian orang yang mengatakan kalau harta tidak mengenal saudara, lho.

Injil hari ini mengharapkan kita untuk berjaga-jaga dan waspada terhadap apa itu harta. Sebab kalau sudah ada dalam KUASA harta, banyak yang berubah menjadi TAMAK sehingga lupa bahwa apapun yang kita miliki adalah kepunyaan Allah. Jadi, hidup kita tergantung kehendak Allah.

St. Theresia dari Avila berkata “Tuhan saja cukup” untuk mencapai ke Yang empunya segalanya itu. Kita diminta untuk meninggalkan segala yang bisa menjadi penghambat. Tapi sayangnya, zaman sekarang orang justru meninggalkan Yang segalanya (Allah) demi memperoleh segala sesuatu yang bernama lain harta dunia.

Kita tengok yang dialami Tuhan Yesus ketika dicobai di padang gurun untuk mendapatkan segala sesuatu. Tetapi jawab Yesus, “hanya kepada Allah Bapa kita harus berbakti.” (Mat 6: 10). Hal itu menekankan bahwa hanya Allah yang merupakan tujuan hidup orang beriman. Jadi harta bukan segalanya. Injil hari ini mengisahkan tentang orang yang kaya sehingga lupa dan berkata pada diri sendiri untuk hidup santai, bersenang-senang karena segala sesuatu sudah dimiliki. Jiwa yang seharusnya dibawa lebih dekat kepada Allah malah terbius dengan hal-hal yang membawa kedosaan.   Kita sebagai milik Kristus diminta untuk menyadari bahwa harta yang kita peroleh dari Allah hendaknya menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah bukan kebalikannya.

Waspadalah, waspadalah terhadap ajakan kepada kita untuk mengejar harta dunia yang selalu melambai-lambai mengajak kita menjauh dari Allah. Ini yang harus kita hindari. Mari kita bertanya pada diri sendiri, mampukah kita sebagai kaum beriman mengikuti ajakan Tuhan Yesus? Tuhan, terima kasih karena sampai saat ini Engkau masih memberi kesempatan kepada kami untuk berusaha mengumpulkan harta Surgawi. Amin. Tuhan memberkati.* (Stefanus Sugiarto)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*