Para nelayan pada umumnya bekerja di malam hari dalam rangka mencari atau menangkap ikan di laut. Mereka juga trampil dalam hal melihat bintang di langit sebagai petunjuk arah. Dengan kata lain, bintang yang bertebaran di langit pada malam hari, bagi mereka sungguh merupakan “jalan hidup” menuju ke keselamatan dan kebahagiaan. Bintang-bintang di langit pada malam hari bagi para nelayan juga merupakan kehidupan. Mungkin bagi kebanyakan orang, bintang hanya sekedar keindahan pada malam hari.

Pada hari ini dikisahkan orang-orang Majus dari Timur yang melihat bintang sebagai tanda kedatangan Penyelamat Dunia, dan bintang tersebut menjadi petunjuk arah ke mana ia harus mencari tempat di mana Penyelamat Dunia dilahirkan dan berada. Maka dari jauh dengan petunjuk bintang, mereka berjalan menuju Yerusalem, dimana bintang yang dilihatnya menunjukkannya. Penampakan Tuhan bagi mereka ditandai dengan simbol bintang, dan memang Sang Penyelamat Dunia kiranya boleh dikatakan sebagai Bintang Sejati yang menerangi dan memberi petunjuk jalan bagi semua orang untuk mengarah ke keselamatan atau kebahagiaan sejati. Maka marilah kita yang beriman kepada-Nya mawas diri, apakah dapat menjadi bintang-bintang bagi saudara-saudari kita dalam hidup, kerja kita setiap hari kapan pun dan di mana pun.

Menjadi bintang pada umumnya menjadi sorotan atau perhatian banyak orang, misalnya bintang penyanyi, bintang pelajar/mahasiswa, dst. Semoga kita tidak menjadi malu ketika menjadi perhatian dan sorotan dari banyak orang serta juga tidak menjadi sombong, melainkan hendaknya bersyukur dan berterima kasih serta kemudian menghayati syukur dan terima kasih tersebut dengan berbuat baik kepada mereka yang memerhatikan dan menyoroti. Jika perbuatan baik tak mungkinĀ  dilakukan dengan tindakan-tindakan fisik, baiklah dilakukan secara spiritual, yaitu dengan mendoakan mereka. Dengan kata lain menjadi bintang berarti juga menjadi pendoa sejati, yaitu orang yang senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan kapan pun dan di mana pun.

Kita semua seyogyanya tidak meniru sikap raja Herodes, yang pura-pura juga ingin melihat dan berbakti kepada Sang Penyelamat Dunia, namun sebenarnya dalam hatinya iri dan merasa disaingi karena konon ada raja baru yang muncul dan lebih berwibawa. Iri hati dan kebohongan Herodes dikemas dalam kata-kata yang indah, dan memang begitulah sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari dalam diri orang yang iri hati dan sombong. Para penjahat pada umumnya menggunakan kata-kata mesra dan indah untuk mengelabui sasarannya. Maka dengan kepekaan, hati-hati, berwaspada serta cermat terhadap kata-kata mesra dan indah, adalah langkah dan tindakan yang tepat. Jangan-jangan hal itu merupakan jebakan atau rayuan bagi kita untuk menjadi korban kejahatan.

Marilah kita lihat kehadiran dan karya Tuhan dalam diri kita, yang nampak atau menggejala dalam aneka perbuatan baik, bermoral serta berbudi pekerti luhur. Apa yang baik, bermoral serta berbudi pekerti luhur dalam diri kita merupakan bintang-bintang yang menunjukkan jalan bagi kita semua untuk menuju ke kebahagiaan atau keselamatan sejati, yaitu kebahagiaan dan keselamatan jiwa manusia.*