Asian Youth Day 2017

Dok. Yoshua Hutagalung
Dok. Yoshua Hutagalung

Asian Youth Day (AYD) yang diadakan pada 30 Juli 2017 sampai dengan 6 Agustus 2017 memberikan kesempatan Orang Muda Katolik (OMK) Asia untuk berpartisipasi memeriahkan acara dengan tema Living The Gospel In Multicultural Asia. AYD dihadiri oleh negara-negara anggota dari FABC (Federation of Asian Bishop’s Conference) dengan tujuan memberikan kesempatan kepada OMK untuk memperbaharui dan memperdalam iman mereka sebagai murid Kristus dengan menjadi saksi cinta Tuhan bagi sesama dalam konteks Asia yang majemuk.

Di lingkup Keuskupan Bogor, kegiatan AYD pada 30 Juli 2017 – 2 Agustus 2017 diawali dengan melakukan DID (Days in the Diocese) dengan menyambut kontingen dari Filipina dan Hongkong serta misa pembukaan AYD di Katedral Bogor. Selanjutnya, kontingen melakukan live in di beberapa paroki di Keuskupan Bogor.

[Baca juga: Kegiatan Pra AYD untuk Peserta, Mentor dan Volunteer ]

Dok. Yoshua Hutagalung
Dok. Yoshua Hutagalung

Saya berkesempatan untuk mengikuti live in dengan house mate berasal dari Filipina yang bernama Jojie Juanerio. Dia adalah seorang yang memutuskan hidup selibat dengan bekerja di Nuestra Senora del Perpetuo Socorro Parish Manila sebagai seorang guru matematika dan financial consultant. Kami tinggal di rumah house parent yang bernama Vincent Tobing di Cibubur selama dua hari. Beliau adalah umat dari Kuasi Paroki Bunda Maria Ratu (BMR) Depok. Kami berkesempatan live in di Kuasi Paroki BMR yang dimeriahkan oleh OMK tersebut. Perwakilan peserta AYD yang mendapatkan kesempatan live in di Kuasi Paroki BMR adalah tiga OMK dari Indonesia (Yoshua, Yohanes Edi, dan Isabela Dwi), dua OMK dari Filipina (Ronel dan Jojie), dan seorang OMK dari Hongkong (Eloisa Laurel).

Pengalaman live in diawali pada 31 Juli 2017. Kami diajak berjalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) untuk memperkenalkan budaya dari Indonesia. Sedangkan acara puncak pada malam hari yang diadakan di Kuasi Paroki BMR diisi dengan berbincang mengenai OMK di negara masing-masing serta bertukar pikiran mengenai permasalahan OMK yang terjadi sekarang ini.

Pada 1 Agustus 2017, sebelum kembali ke Katedral Bogor, kami melakukan misa pagi serta berpamitan kepada RD Albertus Kurniadi dan umat di Kuasi Paroki BMR untuk melanjutkan kegiatan. Semua peserta kembali ke Katedral Bogor setelah live in dari masing-masing paroki. Bersama-sama kami melanjutkan acara dengan jalan-jalan ke Museum Etnobotani, Museum Kepresidenan RI, Kebun Raya Bogor, dan Kelenteng Hok Tek Bio. Sebelum Kontingen Keuskupan Bogor, Filipina, dan Hongkong pergi ke Yogyakarta, kami mengikuti acara puncak  DID, yaitu misa sebelum keberangkatan yang dipimpin oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM dan Uskup dari Filipina, serta pentas budaya.

Kontingen kami tiba di Yogyakarta di Gedung Serba Guna Jogja Expo Center (JEC) pada 2 Agustus 2017. Setelah registrasi, kami melakukan theme song AYD performance. Tema kegiatan hari pertama, yaitu “Datang dan Berkumpul Bersama Sebagai Masyarakat Asia yang Majemuk”. Kegiatan diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko dan upacara pembukaan yang dihadiri oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X serta Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin. Setelah acara tersebut selesai, kami beristirahat di Universitas Sanata Dharma.

Dok. Yoshua Hutagalung
Dok. Yoshua Hutagalung

Pagi harinya, 3 Agustus 2017 dengan tema hari kedua, yaitu “Menghargai Keberagaman dan Merayakan Keberagaman”, kami mengawalinya dengan berdoa bersama serta review hari pertama. Romo Dominicus Bambang Sutrisno membuka acara dengan plenary session yang menceritakan sejarah Keuskupan Agung Semarang dan Katolik di Indonesia. Selanjutnya perwakilan negara-negara Asia membuka booth untuk pameran budaya serta region sharing. Kontingen diberikan kesempatan untuk mengunjungi booth tersebut serta diberikan lembaran petunjuk kertas untuk menebak budaya dari masing-masing negara. Acara diakhiri dengan mengadakan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh petugas dari Kamboja.

Hari ketiga dengan tema “Bersatu dalam Keberagaman” pada 4 Agustus 2017 diawali dengan review hari kedua serta perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh petugas dari India. Masing-masing kontingen selanjutnya pergi melakukan kunjungan ke 25 exposure. Saya mendapat kesempatan pergi ke Paroki Somohitan, Sleman. Di sana kami disambut dengan tarian daerah. Selanjutnya kami dibagi dalam tiga kelompok untuk menuju perkebunan salak pondoh, peternakan kambing, dan paroki. Saya masuk dalam kelompok yang menuju perkebunan salak pondoh. Di sana kami diajarkan cara bercocok tanam serta pengetahuan tentang industri salak pondoh. Selesai dari exposure, kami melanjutkan acara di JEC dengan melakukan pengakuan dosa.

Hari keempat dengan tema “Merayakan Kebersamaan” pada 5 Agustus 2017 diawali dengan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh petugas dari Korea serta dilanjutkan dengan plenary session oleh Uskup Joel Z. Baylon, DD dengan tema “The Asian Catholic Youth Today ; Realities and Challenge”. Kemudian kontingen menuju tempat workshop yang dibagi menjadi 15 tema. Saya mengikuti workshop dengan tema ”How to be Witness of Christ in a Multicultural Context” yang dibawakan oleh Fr. Gustavo Benitez, Agnes Dwi Rusjiyanti, dan Wiwin Rochmawati. Selanjutnya, kontingen dari seluruh keuskupan di Indonesia berkumpul untuk membahas action plan untuk generasi OMK di Indonesia.

Dok. Yoshua Hutagalung
Dok. Yoshua Hutagalung

Acara puncak penutupan AYD 2017 dimeriahkan dengan pertunjukan kebudayaan dari masing-masing negara perwakilan yang dihadiri oleh Menteri ESDM, Ignasius Jonan serta Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi.

Hari terakhir perayaan AYD 2017 dengan tema “Berbagi dan Hidup Dalam Sukacita Injil” pada 6 Agustus 2017 dimeriahkan dengan perayaan ekaristi di Lapangan Dirgantara, Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta yang dipimpin oleh Kardinal Patrick D’Rozario. Beliau juga menyampaikan pesan dari Paus Fransiskus, “Semoga seluruh kaum muda dari segala penjuru Asia mendengarkan panggilan Tuhan dengan seksama dan menanggapi panggilan masing-masing dengan iman dan keteguhan hati”. Akhir dari perayaan ini dihadiri juga oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla yang menyampaikan pesan tentang Bhineka Tunggal Ika adalah kekuatan kita.* (Yoshua Hutagalung/ OMK)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*